HUKUMRIA
Saya bukan ustad bukan ulama, cuma sering penasaran saja. Di pengajian, banyak ustad yang mengutip Hadist Qudsi "Puasa itu untuk-Ku. Aku yang akan memberikan penilaian dan membalasnya". Kurang lebih maksud hadis tersebut, ibadah apa saja itu diperuntukkan kepada manusa yang menjalankannya, tetapi untuk puasa dikhususkan untuk Allah. Lalu apa sih istimewanya puasa itu kok ditentukan sedemikian khusus?
Sering juga denger ustad membahas istimewanya puasa, tetapi belum pernah ada penjelasan logis yang bisa memuaskan rasa penasaran saya. Paling hanya menerangkan bahwa puasa sholat itu mudah diawasi orang lain, kalau puasa sulit. Rasanya alasan itu kurang masuk akal, karena ngawasi seseorang naik haji tentu memerlukan upaya yang jauh lebih besar dibanding menguntit seseorang itu puasa atau tidak. Di beberapa buku yang membahas puasa-pun belum pernah saya temukan keistimewaan puasa kecuali yang merujuk kepada Hadis Qudsi tersebut.
Dengan tidak "njampangi" atau mendahului kehandah Guati Allah, di sini mencoba ngajak "ijtihad-ijtihadan" kecil-kecilan saja... mencari istimewanya ibadah puasa itu. Dimulai dengan "kuwamani" atau "lancang" melokalisir atau menyederhanakan permasalahan. Dengan tidak mengurangi apresiasi dan perhatian juga kepada yang lain, seluruh ibadah disederhanakan hanya yang tercakup dalam lima Rukun Islam. Maka permasalahan bisa langsung disederhanakan "Apa sih perbedaan antara Syahadat, Sholat, Zakat dan Haji dibandingkan dengan Puasa?".
Sekarang mangga dilihat satu persatu, dalam syahadat, kita diperintah untuk mengucapkan suatu pengakuan yang diendorse (dibenarkan) oleh hati, untuk sholat kita diperintah untuk melakukan gerakan dan ucapan tertentu, dalam zakat kita diperintah untuk mengeluarkan sebagian harta, dalam haji kita diperintah untuk pergi ke tanah suci untuk melakukan ritual tertentu. Lha kalau puasa itu kita diperintah ngapain? Rasanya tidak ada perintah untuk melakukan sesuatu atau mengucapkan perkataan tertentu, justru kita "dilarang untuk melakukan sesuatu".
Nah… itulah barangkali perbedaan "mendasar" antara puasa dibandingkan ibadah yang lain. Ibadah yang lain itu intinya adalah "aktivitas" khusus puasa intinya adalah "pengendalian diri". Lalu kenapa sih "pengendalian diri" itu kok begitu istimewa?
Lha iya… memang mudah dibuktikan, apapapun kerusakan di alam dunia ini, baik itu tatanan masyarakat maupun lingkungan alam, sebagian besar akibat ulah "manusia yang tidak bisa mengendalikan diri". Contonya, maksiat itu bisa terjadi kan karena manusia "kebelet" (ini bahasa Jawa, nggak tahu basa Indonesianya yang baik dan benar apa) atau "tidak bisa menahan diri" untuk tidak menikmati "kenikmatan" yang bukan atau yang belum menjadi haknya yang syah. Korupsi itu terjadi karena orang yang diberi amanah "tidak bisa menahan diri" untuk tidak menyalah gunakan harta atau fasilitas yang dipercayakan kepadanya. Maling, copet, jambret, itu terjadi karena ada yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengambil harta orang yang lengah. Rampok dan garong itu terjadi karena ada yang "tidak bisa menahan diri" untuk merampas harta orang yang tidak kuasa melawan. Kerusakan hutan, banjir, kebakaran hutan itu terjadi karena ada manusia serakah atau tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak membabat hutan seenaknya sendiri. Tawuran, penjarahan, bentrokan fisik, perang, teror itu terjadi karena ada orang atau sekelompok yang tidak bisa menahan diri untuk tidak memprovokasi atau menyerang orang lain.
Andai puasa diibaratkan sebuah training center, diklat atau pesantren---dengan mengingat inti puasa adalah pengendalian diri, maka para alumni yang lulus adalah mereka yang telah berhasil dalam "ujian pendendalian diri".
Nah... logikanya semakin banyak alumni puasa yang ada di masyarakat (karena puasa itu kan ada setiap tahun) maka seharusnya maksiyat, korupsi, rampok, garong, maling, copet, kerusakan alam, tawuran, teror, atau kerusakan lainnya di muka bumi ini juga akan semakin berkurang.
Kalau ternyata alumnus puasa semakin bertambah, tapi kok maksiat, korupsi, rampok, garong, maling, copet, tawuran, teror, bentrokan, kerusakan alam, dll semakin banyak atau minimal nggak berkurang. Itu kan berarti ada yang salah... dan kita pantas banget mempertanyakan "puasa macam apakah yang telah kita lakukan?".
Wallahu a'lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar